Kita hidup dalam masa yang sangat membingungkan dan mencemaskan. Melihat kecenderungan data-data statistik yang ada di berbagai bidang, mulai dari sektor ekonomi, ekologi, pangan, energi, lingkungan, kesehatan, termasuk juga sosial, dan politik, keadaan dunia sedang berjalan ke arah yang lebih buruk dari yang sebelumnya kita alami. 

Kata-kata krisis ekonomi, krisis pangan, krisis ekologi, krisis energi, dan lain-lain mulai sering kita dengar dari berbagai media dan ulasan berbagai pakar. Hal itu cukup memberikan gambaran umum keadaan buruk yang sedang dialami dunia.  Bahkan banyak orang mulai percaya saat ini kita sedang memasuki krisis peradaban multi-dimensi sebagai akibat dari berbagai macam krisis yang muncul bersamaan dan saling terkait satu dengan yang lain. 

Dalam buku "Limits To Growth" Dennis Meadows mengungkapkan akar semua krisis tersebut terletak pada pertumbuhan peradaban manusia dan segala kebutuhannya yang cenderung eksponensial tidak dapat diimbangi oleh ketersediaan sumber daya alam dan lingkungan hidup yang terbatas. Apabila krisis terus berlanjut dan pertumbuhan peradaban tak dapat diimbangi lagi oleh sumber daya alam dan lingkungan, maka peradaban manusia akan runtuh.

Memang berbagai solusi juga pasti diupayakan. Misalnya berbagai upaya pengendalian populasi, mengoptimalkan penggunaan sumber daya alam yang terbatas melalui daur ulang, penggunaan energi terbarukan, konservasi lingkungan hidup, dan sebagainya. Setidaknya itulah cara-cara yang digunakan dunia untuk mengatasi krisis yang dihadapinya.

Tapi kompleksitas masalah dan keadaan manusia yang heterogen dengan bermacam kepentingannya membuat apapun solusi yang diupayakan, pada akhirnya hanya efektif apabila diterapkan melalui sistem totaliter yang bersifat global. Itu pun baru solusi yang sifatnya teoritis. 

Dengan kata lain solusi terbaik yang dapat dicapai manusia, yaitu melalui sistem pengendalian yang bersifat totaliter, pada akhirnya hanya bisa menawarkan utopia.

Tapi ironisnya, seolah tidak ada alternatif lain utopia peradaban totaliter itulah yang sedang diupayakan manusia. Pandemi virus berkepanjangan yang terjadi sejak tahun 2020 makin mengkonfirmasi gambaran suram masa depan peradaban dunia yang cenderung mengarah pada sistem totaliter yang global. Ada kemungkinan cukup besar cara-cara totaliter global ini akan diterapkan, semakin lama semakin efisien, untuk mengatasi berbagai krisis yang akan muncul.

Tapi kita tidak akan membahas persoalan itu lebih detail karena persoalan krisis peradaban multi-dimensi bukanlah cakupan dari seri video ini. Kenyataan tadi kita singgung sekedar untuk menunjukkan bahwa berbagai upaya duniawi melalui teknologi, sains, dan ilmu-ilmu sosial yang selama ini dilakukan manusia ternyata tidak menjadi solusi yang tuntas bagi berbagai krisis yang terjadi. Termasuk upaya solusi totaliter hanya akan memberikan solusi teoritis berupa utopia yang kelak akan menghadapi kegagalan yang sama seperti kegagalan sistem komunisme Rusia. 

Tidak ada jaminan apapun bahwa mengupayakan solusi-solusi manusiawi akan mengubah keadaan menjadi lebih baik, Jika pun sistem totaliter global berhasil diterapkan demi solusi yang efektif, krisis peradaban multi-dimensi yang terjadi belum tentu teratasi seluruhnya tapi penindasan terhadap martabat kemanusiaan sudah pasti terjadi.

Karenanya kita membutuhkan solusi lain yang mampu mengatasi keterbatasan upaya manusiawi kita! Jika upaya manusiawi tidak cukup, lalu kemanakah kita harus mencari solusi tersebut?

Tentu saja jalan terbaik adalah berpaling pada Tuhan yang menciptakan dan merancang segala sesuatu yang ada di dunia ini. Solusi duniwi pasti gagal karenaa mereka melupkan Tuhan. Hanya Tuhan saja yang tahu bagaimana dunia yang rusak karena berbagai sebab, termasuk karena manusia, dapat dipulihkan kembali sebagaimana keadaannya semula.

Bahkan sebelum kita memikirkannya, sesungguhnya Tuhan sudah punya rencana untuk memulihkan keadaan dunia, yaitu dengan menghadirkan Kerajaan Allah seperti yang selalu kita harapkan melalui Doa Bapa Kami. Hadirnya Kerajaan Allah di bumi adalah satu-satunya solusi yang disediakan Tuhan untuk memulihkan keadaan dunia.

Tapi apakah dengan hadirnya Kerajaan Allah di dunia segala masalah yang ada di dunia ini dapat teratasi? Apakah berbagai krisis seperti krisis energi, krisis lingkungan, krisis pangan, krisis ekonomi, krisis kemanusiaan, dan semua krisis lain yang menimpa peradaban dunia saat ini bisa teratasi?

Ya, dalam iman saya percaya, karena Tuhan sendiri telah menjanjikan: 

"Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." (Mat.6:33). 

Jika kita berupaya mewujudkan Kerajaan Allah sebagai prioritas dalam segala upaya kita, maka Tuhan akan menganugerahkan segala sesuatu yang dibutuhkan agar keadaan dunia menjadi pulih kembali.

Tapi apa itu Kerajaan Allah?

Kerajaan tentu saja berkaitan dengan sistem pemerintahan yang mengatur kehidupan manusia. Maka Kerajaan Allah adalah sebuah sistem pemerintahan universal dimana Tuhan sendirilah yang menjadi Raja, seluruh hukum Tuhan menjadi satu-satunya hukum yang berlaku, dan Sabda Tuhan menjadi satu-satunya kebenaran.

Lalu bagaimanakah Kerajaan Allah itu datang dan berkuasa di seluruh muka bumi?

Kerajaan Allah itu datang melalui Gereja yang didirikan-Nya (Mat.16:19) dan menguasai dunia melalui amanat Agung yang disampaikan kepada Gereja-Nya sebelum Dia naik ke surga:

"...pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Mat.28:19-20).

Jadi hadirnya Kerajaan Allah di bumi identik dengan terwujudnya Gereja Kristus menjadi satu-satunya agama universal di muka bumi. Jika itu terwujud maka seluruh permasalahan di dunia ini akan terselesaikan melalui pertolongan dan berkat Tuhan yang ajaib. Tidak sulit bagi Tuhan yang telah menciptakan dunia dan isinya dari ketiadaan, untuk memulihkan keadaan dunia dari segala kerusakan dan menjadikannya baik seperti semula. Sama sekali tidak sulit.

Maka tugas kita sebagai umat beriman adalah ikut serta dalam rencana Tuhan untuk menjadikan Gereja-Nya sebagai Kerajaan Allah yang berkuasa secara universal di muka bumi.

Tapi itu bukan tugas yang mudah...

Iblis tidak akan tinggal diam dan akan berupaya merusak rencana Tuhan sejak semula. Iblis merusak rencana Tuhan untuk memulihkan dunia dengan cara menghancurkan Gereja Kristus dan mendirikan kerajaan universalnya sendiri, yaitu menara Babel yang baru.

Upaya menghancurkan Gereja Kristus dilakukan dengan cara membuat perpecahan Gereja seperti yang terjadi sejak abad ke 5 dan puncaknya adalah pengkhianatan dari dalam sebagaimana yang terjadi dalam Konsili Vatikan II. Sementara upaya untuk mendirikan kerajaan iblis atau Menara Babel yang baru dilakukan dengan membangun sebuah sistem pemerintahan yang bersifat global dan melawan rencana Tuhan. Sekarang sistem pemerintahan global tersebut sedang diwujudkan dalam bentuk New World Order (Tatanan Dunia Baru). 

Upaya pembangunan menara Babel ini sekaarang dapat terlihat dari berbagai upaya solusi manusiawi untuk mengatasi krisis peradaban dengan melupakan Tuhan, yang pada akhirnya akan mengarahkan peradabaan manusia pada sistem totaliter.

Jadi pada akhirnya ada dua kekuatan yang berupaya untuk mengubah keadaan dunia. Yang satu adalah Kerajaan Allah, dan yang lainnya adalah Kerajaan Iblis alias Menara Babel yang baru. Dan keduanya jelas saling berhadapan satu sama lain.

Kerajaan Allah bermaksud memulihkan kembali keadaan dunia pada keadaannya yang semula sebelum dirusak oleh kejatuhan manusia ke dalam dosa. Sementara Menara Babel yang baru hanya memanfaatkan kekacauan dan kerusakan yang ada akibat kesalahan manusia untuk membangun sistem pemerintahan totaliter yang akan mengarahkan manusia untuk sepenuhnya meninggalkan Tuhan dan menyembah iblis! 

Jika Kerajaan Allah menghadirkan surga di bumi, Menara Babel akan menghadirkan neraka di bumi.

Perseteruan antara Kerajaan Allah dan Menara Babel ini adalah penggenapan dari nubuat di Taman Eden. Menurut Kitab Kejadian, setelah kejatuhan Adam dan Hawa akibat bujukan iblis, Tuhan bersabda demikian:

"Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya, ia akan meremukkan kepalamu dan engkau akan mengincar tumitnya." (Kej.3:15).

Menurut nubuat tersebut, perseteruan antara Kerajaan Allah dan Menara Babel akan berlangsung terus hingga akhirnya Menara Babel dikalahkan! 

Dengan demikian secara implisit kita sebagai umat Tuhan yang ingin mewujudkan Kerajaan Allah pasti terlibat dalam pertempuran berkepanjangan melawan iblis dan para pengikutnya yang ingin menghancurkan Kerajaan Allah dan mendirikan Menara Babel. Ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Paus Leo XIII bahwa orang Kristen dipanggil untuk bertempur!

Dan menurut Rasul Paulus, pertempuran itu bukanlah pertempuran fisik melainkan pertempuran rohani:

...perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. (Ef.6:12).

Karenanya kita juga membutuhkan senjata yang bukan bersifat fisik, tapi rohani. Ini juga yang dikatakan oleh Rasul Paulus:

Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu (Ef.6:13).

Senjata rohani yang kita butuhkan dalam peperangan rohani untuk mewujudkan Kerajaan Allah itulah yang akan kita bahas dalam seluruh seri video ini. Salah satu senjata rohani yang dimaksud tidak lain adalah Doa Mazmur Yesus.